Myth Buster

Ini tentang mitos atau kata orang tua yg biasanya dibilangin ke ibu hamil agar kehamilan berjalan mulus, mudah melahirkan, bayinya cakep, asinya banyak.

Well, if you know me, I’m not into that kind of traditional stuff. It took a journal (systematic review or meta analysis is a plus) to convince me to adapt a particular habit. So I’m a self proclaimed myth buster. 

Tapi sebenarnya banyak juga yg awalnya nasihat orangtua atau resep tradisional lalu diteliti dan ternyata terbukti bagus. Kalau ini saya ikutin. Terutama kalau memang saya suka hahaha..

Ok, jadi ini beberapa hal yang terbukti atau tidak terbukti di saya

1. Minum kelapa ijo supaya anaknya bersih 

Saya minum kelapa muda kalau memang lagi makan di tempat yang menyajikan kelapa muda, sisanya ya enggak. Anak saya? pas lahir bersih2 aja ga ada kerak gimana2.

2. Makan atau minum air kacang ijo supaya rambut anaknya lebat

Saya ga pernah suka kacang ijo, dan pas hamil juga enggak. Tapi rambut anak saya lebat dan bikin mellow ketika mau dibotakin. Tapi Alhamdulillah tumbuhnya cepet dan lebat lagi.

3. Makan atau minum sup ayam ala cina supaya seger setelah lahiran.

This is a torture. I don’t like the soup at all. Tapi saya ga enak sama mertua yang udah siapin buat saya 1 gentong (beneran 1 gentong). Setiap minum saya stress. Akhirnya saya bilang ke suami ga sanggup, mendingan dikirimin sop ayam pake royco, pasti saya abisin. Kalau stress kan asi ga lancar toh? dan boro2 seger.

4. Daun katuk dan daun ijo2 bikin asi lancar

Ga tau memang karena daun katuknya atau memang rejeki anak saya, Alhamdulillah memang asi saya lancar bahkan bisa berbagi dengan bayi lain. Saya memang dari kecil suka sayur ini sih, jadi ketika dibawain sama ibu saya ya saya abisin terus (tidak lupa pake royco). Tapi itu awal2 aja, setelah 1 bulan saya ga rajin makan sayur bening, makan biasa aja dan Alhamdulillah suplai asi tetap cukup.
 
Kayaknya itu aja yang sering dibilangin ke saya. Lebih banyak lagi soal per-bayi-an tapi itu edisi lain haha.. 

Pesan pentingnya, ibu hamil baiknya kontrol rutin dengan dokter kandungan. Kalau ada keraguan jangan sungkan konsul dengan dokter kandungan. Selama makanan, kegiatan atau apapun itu ga bahaya untuk kehamilan ya ga masalah 👍🏻

Wish you a happy pregnancy and smooth delivery 😊

Gentle birth

Akhir-akhir ini istilah gentle birth jadi lebih sering terdengar. Entah karena memang makin populer atau karena saya yang baru melahirkan jadi lebih terpajan dengan istilah itu.

Saya sendiri pertama mengetahui soal gentle birth ketika membaca cerita salah satu penulis Indonesia yang melahirkan anaknya dengan cara ini setelah sebelumnya mengalami trauma karena melahirkan anak pertamanya dengan operasi cesar.

Gentle birth kalau saya tidak salah tangkap dijabarkan sebagai proses yang alami (spontan), tidak ada paksaan (induksi), menunggu waktu yang ditentukan oleh sang anak (bukan dengan induksi atau SC elektif), dengan intervensi medis minimal (no forcep, vacuum, apalagi scalpel). Tapi kata teman saya yang praktisi hidup sehat sebenarnya ga segitunya, melahirkan dengan bantuan operasi juga bisa dibilang gentle. Intinya it feels right. 

Well, in my case, operating room feels right.

Setelah mengalami hiperemesis di trimester pertama, kehamilan saya berjalan mulus dan saya bisa melanjutkan kegiatan saya sebagai mahasiswa spesialis seperti biasa, yang salah satunya menghabiskan waktu di kamar operasi atau yang juga sering disebut OK oleh orang – orang yang bekerja di rumah sakit (sebagai operator atau asisten tentunya,  bukan sebagai pasien). Saya terbiasa dengan suhunya yang dingin, sorot lampunya, bunyi monitor, sendal crocs KW super nya, personil yang berlalu-lalang dengan scrub dan masker yang mungkin mengintimidasi untuk orang lain. I do feel safe.

Jadi ketika kontraksi tidak kunjung datang  kemudian induksi tidak menghasilkan pembukaan yang diharapkan dan pada akhirnya dokter kandungan memutuskan untuk operasi, saya sudah siap. Ketika suami harus memindahkan barang – barang dari kamar bersalin ke ruang rawat, saya di dorong ke OK sendirian, dan saya tidak apa – apa. Bedanya, saya didorong, biasanya saya yang minta pasien didorong dan saya sudah bergosip dengan tim menunggu di ruangan.

Proses kelahiran pun berjalan cepat, anak saya ternyata terlilit tali pusar di badan sehingga tidak dapat turun ke jalan lahir. Suami setelah membereskan barang dan administrasi juga masuk, mendampingi di kamar operasi, serta mendokumentasikan kelahiran anak kami. IMD juga dapat dilakukan. Tidak ada yang terasa salah.

Ya, ada beberapa hal yang mungkin dianggap kurang enak seperti saya baru bisa bertemu lagi dengan bayi saya 5 jam setelah IMD karena saya masih harus dirapikan dijahit serta efek sedasi yang membuat saya cukup lama diobservasi di recovery room (atau sebenarnya enak? jadi bisa istirahat dulu). Saya juga penasaran bagaimana rasanya kalau bayi itu “plong” lewat jalan lahir setelah kontraksi yang aduhai itu. Well, maybe next time. 

Jadi kalau ditanya soal melahirkan yang feels right, I have one so far 🙂

 

Is it wrong?

One could be the best graduate with honors and highest gpa in the university and top rank at national exam

but choose to be a stay at home mom most of the time and wearing baby food-stained t-shirt 

Is it a waste of talent?

Is it a waste of years of study and practice?

It it a waste of money?

Is it wrong?

Surprise

We said that if a surprise becomes a routine, it’s no longer surprising

We said that we don’t need one everytime we reach our birth date

but secretly we want to be surprised…

I failed to give a good one last year

and now I got help from the biggest surprise of our life,

hope it works 😉

Congenital Anomalies

I was strugling to study for my comprehensive test (still actually, by the time i wrote this) due to the fact that I have a 2 months old baby who needs attention in so many ways.

My husband did everything in his power to tak e care of him and gave me extra time to highlight some algorithms and guidelines. But still, at 9 pm I ended up with nursing my son to sleep while opening AO website on my mobile phone, maxillofacial surgeons’ bible for all bone-related diseases.

In such limited time, I decided to read materials that I wasn’t really familiar in my 5 years of training because the cases are rare. Just in case, it’s comprehensive test right?

It’s about congenital anomalies

While cleft lip and palate are common cases, I didn’t have much experience with hemifacial microsomia and treacher collins syndrome, whose patients have parts of their faces underdeveloped or more severe syndromes like the recent zika virus that affects skull bone and brain. I kept reading the classifications, treatment alternatives, life expectancies and other things I should know as a surgeon when It strucked me that it could be Thariq.

The numbers may be 1:600, 1: 2500 and so on. But still, it could be my baby.

It could be my baby who has to spent nights in NICU incubator and undergo extensive surgery before he could speak.

It could be me having engorged breast with breastmilk without any baby to fed.

Alhamdulillah, Thariq has normal anatomy and normal functioning organs. 

Alhamdulillah, I have a healthy crying baby in my arms while I’m studying cases of special babies.

I’m so lucky..

Being grateful is one thing

I couldn’t imagine if it was my baby. But I could help.. in the near future I hope.

now back to studying.. shall we?

Mama

Kadang – kadang karena saking ingin buat tulisan yang “keren” malah jadi ga ditulis – tulis, lalu lupa, lalu ya sudah ga jadi… But I really want to write this no matter how cheesy or messy it might look.

Mama saya bukan tipe lovey-dovey mom. Saya ga inget kapan terakhir kali saya dipeluk. Eh inget deh, pas pengajian pra nikah, yang berarti hampir 3 tahun yang lalu. Tapi itu ga masalah buat saya, karena mama saya punya cara lain untuk mencintai anaknya.

Sejak menikah saya memang ga tinggal serumah dengan orangtua, tapi komunikasi kami tetap baik. Saya sering whatsapp-an atau kadang2 telponan (sampai 1 jam bahkan) dengan mama. Seringkali karena saya mau curhat. Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, mama saya bukan tipe yang kalau anaknya jatuh lalu bilang “mana sini yang sakit, cup cup, sembuh yaa.. ” Jadi kalau saya curhat saya ga mendapatkan “siraman kasih sayang”.

Saya pernah curhat soal mendapatkan amanah besar disaat saya sedang hamil (sekarang juga masih sih). Kehamilan saya Alhamdulillah terkendali, tapi buat saya pribadi saya sebenarnya ga ingin dapat amanah itu karena maunya bisa santai, relaks, ga mikirin nasib negara.

Lalu apa respon mama? kurang lebih “ya ud biasa kan? bisalah”

err..

terus ketika saya curhat mau ditinggal suami dinas ke luar negeri agak lama..  Soal ini sebenarnya agak lucu, suami saya beberapa mau dinas ke luar negeri tapi batal karena alasan – alasan yang ga disangka, seperti nama di visa salah sehingga ga bisa lolos di imigrasi. Tapi menurut suami saya, itu karena saya ga ikhlas ditinggal jadi ada – ada aja masalahnya. Saya memang makin manja sejak ada bayi di perut (rahim lebih tepatnya) jadi galau kalau ditinggal. Untuk yang kali ini saya wa lah mama saya

lalu respon mama? “Ya gpp, kan mandiri”

err..

Akhirnya suami pun berangkat dan pulang dengan sukses.

Entah karena memang mama sangat percaya saya bisa menyelesaikan masalah saya atau sekedar menenangkan supaya saya ga drama, tapi ya memang ngaruh sih, saya jadi ga terlalu ambil pusing dan melanjutkan hidup.

Mama juga ga mengintervensi pilihan – pilihan saya dalam menjalani kehamilan atau mempersiapkan keperluan bayi nanti. Mama (sepertinya) percaya pilihan saya untuk memakai co-sleeping cot bukan bed-sharing nanti, atau ga mau pakai bantal, guling, dan selimut untuk bayi untuk mengurangi risiko SIDS.

Ada yang buat saya agak sedih hari ini, ketika saya cerita soal maternity class yang saya ikuti. Saya cerita ada calon ibu yang ditemani ibunya, lalu mama bilang “kalo gitu mama bisa diajak dong, kan mama mau tau perkembangan terkini”.

Saya langsung mencelos..

Saya memang mengurusi persiapan kelahiran berdua dengan suami, tidak minta pertolongan mama maupun mama mertua. Kami ga ingin merepotkan dan kami kebetulan ingin mengikuti rekomendasi AAP atau ACOG yang kurang populer di kalangan keluarga Indonesia, apalagi ibu – ibu yang beda jaman seperti mama – mama kami. Daripada terjadi konflik jadi kami diem – diem aja.

Ternyata mama ingin tau dan ingin lebih dilibatkan. Bukan karena ingin menerapkan cara beliau dulu, tapi ingin mengetahui apa yang anaknya mau.

*emoji nangis*

I love you mama.. thank you for being mama like yourself. Memang mama yang paling cocok jadi mama saya.

Semoga saya juga bisa jadi mama yang cocok untuk bayi yang makin suka stretching di perut. *elus – elus*

 

 

 

 

Mothercare

Yes, that mothercare

A store that contains baby related stuffs

A store that always being visited by moms with their strollers parked in front of glass wall when there’s a huge sale

A store with cute things that no one think can make people sad, but unfortunately they did, even though that’s not their fault

A store that I thought I would never enter, but fortunately I did.. 

with a protruding belly that I thought I would never experienced

with a long list that I thought I would never keep in my bag

with prayers that I thought would not be answered this fast

Thank You

We’ll try again

We know we’re not okay

We know there’s something wrong

We know it could be fixed

but we don’t know whether we’re lucky enough or not

We know it’s going to be hard

We know it will consume everything, literally

We know it could take its toll on us

but we didn’t expect that we actually could handle the bad news

It was not pretty, it was a mess

It is still a mess

But we’re still here

we’re making plans

we’re moving on

and we’ll try again

My turn

I really wish I could give you the best surprise, like you always did

I really wish I could be the proof that you dreams do come true, like you have always been to me

I wish you more happy birthday, so I will have more chances to return your never ending kindness

Constantly challenged

It’s funny that one day you felt you did a great job, gave a pat at the back for yourself, realised that you had grown,

and suddenly you went back to that mediocre, amateur, inexperienced young apprentice.

Every time it happens, you know you’re living an inconsistent live,

and constantly being challenged.

Is that what you want?