Monthly Archives: December 2011

Tentang Publikasi

Tentang Publikasi

Masih satu seri dengan post sebelumnya :D

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kebaikan seseorang bisa tersebar atau bahkan menginspirasi tanpa “publikasi” dari sang pelaku

Ternyata caranya dari sang penerima :)

Jika seseorang berbuat baik, biasanya yang menerima akan menyebarkan.

Contoh:
kita dibantu oleh teman untuk belajar suatu mata kuliah, ketika ada yang kesulitan juga, kita akan bilang “coba minta di ajarin si X, dia ok tuh ngajarinnya, gw jadi ngerti, ga pelit juga”

Tanpa si x bilang “tadi gw ngajarin si y, dan dia jadi ngerti gara2 gw”

di dalam ajaran Islam, ada hadits seperti ini:

“Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila ia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterima kasih kepadanya; namun jika menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkarinya…”
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 157)

Bentuk balasan paling sederhana dari kebaikan tersebut adalah mengucapkan “Jazakallah” yang berarti semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Menurut gw itu semacam ucapan “terima kasih” dengan sisipan doa.

Jadi itu kuncinya mengapa kebaikan bisa tersebar dan menginspirasi tanpa sang pelaku menyebarkannya.

Problem solved! :D

Ketika sembunyi menjadi salah satu pilihan

Ketika sembunyi menjadi salah satu pilihan

Curiosity killed the cat

Adalah idiom yang cocok menggambarkan gw yang suka men-googling hal-hal yang membuat gw tertampar-tampar dan sering membatin “apa sebaiknya gw ga tau ya”

Kali ini soal sembunyi.

Bukan, bukan soal main petak umpet atau sembunyi dari tanggung jawab

Melainkan soal menyembunyikan kebaikan

Di era jejaring sosial seperti sekarang, alih-alih sembunyi, orang-orang lebih suka mengekspresikan banyak hal.. Yang baik, yang buruk, senang, sedih, cinta, benci, sindiran, #kode #nomention bahkan doa (subhanallah). Hal ini membuat gw bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya adab (wuih, berat bahasanya, adab :p) dalam kondisi tersebut

Berikut daftar rasa penasaran + pertanyaan gw dan jawaban yang gw temukan.

1. Bolehkan kita menceritakan hal-hal baik yang kita lakukan ke publik? Sharing is caring right?

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri”
-HR Muslim no 2965, dari Sa’ad bin Abi Waqqash

“Sembunyikanlah amalam kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalam kejelekanmu”
-Abu Hazim

2. Jadi ga boleh? Kan bisa menginspirasi orang lain?

“Jika dia bukanlah termasuk orang yang menjadi uswah (contoh), maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa riya’ takala menampakkan amalannya”
-Iman Al-Iz bin ‘Abdus Salam

Note: jika merasa bisa menjadi contoh yang baik, ya rolemodel gitu, silakan :D Tapi ada lagi ni, misalnya kita merasa jadi rolemodel yang oke dan menginspirasi, ternyata ada yang perlu digarisbawahi juga

“Wahai hamba Allah, sembunyikan selalu kedudukan muliamu. Jagalah selalu lisanmu. Minta ampunlah terhadap dosa-dosamu, juga dosa yang diperbuat kaum mukminin dan mukminat sebagaimana yang diperintahkan kepadamu’
-Al Fudhal bin ‘Iyadh

“Tidaklah bertakwa pada Allah orang yang ingin kebaikannya disebut-sebut orang”
-Basyr bin Al Harits Al Hafiy

3. Itu kan soal kebaikan, bagaimana dengan keburukan? membuka aib orang lain ga boleh ya, bagaimana dengan membuka aib sendiri?

“Jauhilah dosa yang telah Allah larang. Siapa saja yang telah terlanjur melakukan dosa tersebut, maka tutuplah rapat-rapat dengan apa yang telah Allah tutupi”
-HR Al hakim dari Abdullah bin Umar

4. semua amal kan bergantung niat, kalo niat berbaginya ga riya gpp dong?

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”
-QS Al Mu’minum:60

Note: Maksud ayat tersebut adalah, orang-orang yang berpuasa, bersedekah, dan yang shalat tapi khawatir (takut) amalannya tidak diterima (HR Tirmidzi dan Ahmad). Riya membuat amalan kita sia-sia. Jadi kalo kita yakin berat kita tulus ikhlas dan amalan kita pasti diterima, ya gpp :)

Kebaikan yang benar-benar baik akan tersebar dengan sendirinya tanpa kita berusaha mempublikasikan. Jika tidak, mungkin kebaikan yang kita lakukan belum tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Bukankah kita tau keluarga/teman/orang lain yang rajin sholat malam tanpa dia harus bilang “gw tiap malam sholat lho” atau yang rajin puasa, atau yang pengabdiannya kepada masyarakat tidak perlu dipertanyakan.

Dan mereka selalu membuat gw salut :)

*ngambang ya? Karena gw ga berniat untuk ngasih tau apa yang harus lo lakukan.. Gw sendiri tau apa yg perlu gw lakukan setelah melakukan investigasi ini.. Tp gw ga “sebaik” itu untuk bisa mendikte lo ga boleh begini begitu

Namun jika lo menjadikan ini pertimbangan, atau mendapatkan jawaban dari rasa penasaran yang sama.. I’m glad :)

Sumber:
Rumaysho.com

Where did I go wrong

Where did I go wrong

Losing a patient that you’ve been taking care of feels like losing someone important.

Broken hearted.

I believe that death is inevitable, but I also believe in preventable death, that someone could be save, could live longer if…

If we were faster, if we were smarter, if we had the system, if we had the equipments, if we had superpower to stay focus after a long night shift and stay alert to every single detail of the patients, if we had more people that care..

If I were stronger

If they were protected

If it’s absolutely inevitable, why we spend years in school? Why we become doctors, nurses, paramedics? Why we pray so hard? Why we hope for miracles?

It’s always heartbreaking to see, to state the time of death, and to tell the news to the family

Because we believe that someone could always be helped.

Because we want to save a life, not to lose one..