Bunda.. relakan aku..
Disini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur Tuhan
Dinegeri Permai ini
Berjuta rakyat bersimpah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat
Bunda relakan darah juang kami
padaMu kami berjanji
padaMu kami mengabdi
Katanya, sebelum berjuang harus membuat surat wasiat.. siapa tahu “kenapa – kenapa” di tengah perjalanan.. sayangnya sampai detik ini saya belum buat.. entah kenapa kalau mulai buat rasanya terlalu banyak yang ingin disampaikan.. dan jatuhnya jadi sentimentil he3.. kebetulan lagi belum punya harta, jadi makin kosonglah si surat wasiat itu
rasanya tidak adil jika sang surat hanya berisi betapa bahagianya saya telah dipertemukan dengan “jalan” ini.. jalan yang penuh tekanan, cemoohan dari berbagai pihak, keraguan dari teman – teman sendiri, dipaksa melayani oleh yang seharusnya melayani, dan sering terjebak di tengah – tengah kebimbangan..
rasanya bukan sebuah surat yang diharapkan diterima oleh keluarga saya jika hanya berisi betapa saya merasa berarti sebagai manusia, karena diizinkan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, yang mungkin tidak tahu apa yang telah saya dan rekan – rekan lain lakukan untuk mereka..
rasanya surat ini akan dihempaskan ketika yang saya ceritakan di dalamnya adalah saya tidak pernah menyesal harus merelakan kehidupan yang menyenangkan sebagai remaja, sebagai mahasiswa yang sebenarnya bisa menikmati gemerlap ibukota, yang bisa mencapai puncak akademisnya, yang bisa bergaul dengan para pemuka, dengan penampakan rapih, penuh basa – basi, dan menipu nurani.. bukan dengan peluh, bukan dengan teriakan yang sering tidak didengarkan.. bukan dengan airmata ketika meminta izin kepadaNya.. untuk melindungi kami.. dan menjaga hati – hati kami dari keraguan atas kebenaran jalan yang sedang kami tempuh..
rasanya di dalam surat tersebut akan penuh dengan kata – kata maaf kepada rekan – rekan saya.. karena saya yang lemah.. tidak sanggup mengemban amanah yang begitu berat dan tidak optimal dalam menjalankannya.. dan membuat saya sering terjebak dengan alasan – alasan yang sebenarnya tidak pantas.. saya sangat berterima kasih mempunyai rekan – rekan yang begitu luar biasa, sebuah keluarga yang mengajarkan untuk tidak pernah menyerah.. dan walaupun tidak dengan bentuk kasih sayang verbal seperti kekasih kepada pujaannya.. saya selalu merasa didukung oleh semangat – semangat tulus mereka..
rasanya saya tidak sanggup melihat raut wajah ayah ibu saya.. saat tulisan saya di dalamnya menunjukkan bahwa saya sangat beruntung dan bersyukur telah dititipkan kepada mereka.. yang selalu merelakan saya untuk berjuang, yang selalu saya repotkan ketika saya harus mencari bahan rasionalisasi isu, untuk melakukan perjalanan depok – salemba.. agar perjuangan ini tidak lagi di maki – maki sebagai perjuangan yang tidak berlandaskan logika! tidak cerdas! karena mereka adalah saksi dimana anaknya yang masih hijau merelakan waktu tidurnya untuk sekedar mencari solusi masalah untuk para pemimpin bangsa yang jauh lebih cerdas.. Sungguh.. beribu – ribu doa tidak sanggup menggantikan apa yang telah ayah dan ibu saya telah berikan.. dan hanya permintaan maaf yang bisa saya sampaikan.. atas segala kesalahan dan kekecewaan mereka, terhadap saya yang sampai detik ini belum bisa membuat mereka bahagia dan bangga…
rasanya akan aneh, ketika saya menitipkan pesan kepada para pejuang – pejuang muda setelah saya.. karena saya bukan siapa – siapa dan apa yang akan saya sampaikan tidaklah berguna ketika pemuda – pemuda itu terhimpit beban yang sedemikian besar.. sungguh wahai adik – adikku, ketika kalian merasa tidak sanggup lagi dan meragukan perjalanan itu.. kaliah tidaklah salah jalan.. karena jalan perjuangan, menuju kemenangan tidak pernah mudah..
huff.. mana ada surat wasiat seperti itu ya.. ada yang sudah pernah buat? bisa beri tahu cara membuat surat yang baik?
-sekian




Kok jadi hitam yaa..??
selamat berjuang !!