Show off
mau tanya nih.. perlukah kita menunjukkan ekspresi kebencian, ketidaksukaan atau kesusahan yang kita alami secara luas? sampai semua orang tahu dan prihatin? sampai semua orang mencium kebusukan maupun kericuhan yang ada?
atau saya yang perlu banyak belajar, bahwa itulah makna transparansi?
atau izinkan saya berbagi.. apa yang saya sebut dengan tamparan..
Kalau kau ingat bahwa Rasulullah itu luar biasa sabar, kau tak akan berani tegak berdiri di hadapan beliau dan mengeluh berpeluh bahwa kau punya beban yang luar biasa besar..
kalau kau ingat bahwa Abu Bakar luar biasa dermawan, kau tak akan berani menatap mata teduhnya jika nanti bertemu, karena seringnya kau memalingkan muka dan berdalih tak punya jika orang meminta..
kalau kau ingat bahwa Umar bin Khatab sangat tegas dalam haq dan bathil, kenapa masih juga kau masih setengah melangkah dalam berda’wah..
kalau kau ingat bahwa Utsman bin Affan sangat ulet berdagang, mengapa juga kau masih menggerutu memaki diri tak mampu, padahal binatang melata pun berlari memburu..
kalau kau ingat bahwa Ali bin Abi Thalib sangat cerdas luar biasa, masih jugakah kau berbangga akan kepintaranmu berlagak pandai yang jauh sungguh dari buku..
kalau..
dalam AlQuran,
Hadits,
dan Sirah…
orang munafik sangat dibenci jua dihinakan walau rupanya menawan…
maka..
kau sebut dirimu apa jika kau lebih dari itu???
mungkin harus kupinta Tuhan untuk membuatkan neraka khusus untukmu,
wahai jiwa yang sering mengeluh..!!!
—-




ilman bukan tipe orang yang suka mengeluh, dan kurang suka ngeliat orang lain ngeluh.. karena ilman punya pendapat bahwa mengeluh itu penyakit menular.. satu orang ngeliat orang lain nulis keluh-kesahnya, dan orang lain itu punya kecenderungan untuk nulis keluh kesah juga, dan seterusnya.. hingga seakan-akan dunia ini negatif terus sehingga perlu dikeluh kesahkan..
lo yang buat Fi ?

truly and deeply enlightning… thanks Fi