Jadi begini, tgl 12 – 17 Juli yang lalu BEM FKG UI 2007 – 2008 mengadakan Kerja Sosial di Kalimantan Selatan, maksud hati, segera setelah pulang membuat laporan tentang suka – duka berada di borneo sana, tetapi dikarenakan sesuatu dan lain hal (kemalasan nge-blog dan skripsi yang lebih menuntut perhatian -red) tertundalah reportase ini he3.. terus mengapa saya namakan posting ini Jeritan Hati Serambi Madinah? karena saya baru tahu kalau daerah asal ian kasela ini (kasela = kalsel, got it?) mempunyai julukan serambi Madinah! Bukan bukan… karena saya merasa punya kewajiban untuk menyampaikan uneg-uneg terstruktur maupun tidak terstruktur dari warga daerah tersebut. Kenapa? berikut penjabarannya
Kersos FKG UI ini sangat didukung oleh pemda setempat, mulai dari gubernur sampai kepala desa. Hal ini menyebabkan persiapan acara yang cukup baik DAN memberikan kami kewajban untuk beramah – tamah dan menghadiri penyambutan di berbagai tingkat pemerintahan. Sebenarnya menyenangkan sih, karena setiap penyambutan pasti ada acara makan siang atau makan malam atau bahkan makan pagi (semoga dana konsumsinya tidak berasal dari pos – pos anggaran yang tidak seharusnya ya pak
). Nah, yang namanya penyambutan pasti ada sambutan – sambutan.. ya harus didengarkan bukan? (Bukaaaan). Penyambutan pertama rombongan kami bertempat di kantor gubernur kalsel, jadi yang memberikan sambutan adalah kepala dinas kesehatan kalsel, wakil dekan fkg ui sebagai perwakilan kampus dan tentu saja gubernur yang diwakili oleh sekda. Layaknya sambutan, biasanya pasti terkait dengan tema acara bukan? hal tersebut tercermin dari sambutan kadinkes dan wakil dekan, yang membicarakan kersos sebagai wujud pengabdian masyarakat, prevalensi penyakit gigi mulut yang menempati posisi nomor 2 di kalsel, kersos sebagai usaha meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia dan berbagai ucapan terima kasih. Tapi, sambutan dari sekda kalsel bisa dibilang melenceng dari tema acara yang ada. Beliau banyak membicarakan mengenai ketidakpuasan pemerintah daerah tentang desentralisasi dan otonomi daerah yang kurang berjalan dengan baik. Asumsi saya, beliau menganggap ini kesempatan untuk menyampaikan uneg – uneg di hadapan mahasiswa – mahasiswa yang sedang memakai jaket almamaternya yang mungkin biasa dilihat mengkritisi kebijakan pemerintah di tv akhir – akhir ini. Tapi, berkat kata – kata sambutan beliau, saya jadi tersadar bahwa kondisi setiap daerah itu berbeda.. kebutuhan pulau Jawa dan pulau Sumatera berbeda, apa yang kurang di Sulawesi bisa jadi berbeda dengan apa yang kurang di pulau Kalimantan. Pak Sekda sungguh antusias ketika membicarakan fakta bahwa di Kalsel pemadaman listrik merupakan hal yang lumrah (bahkan ketika acara penyambutan, kantor gubernur sedang terkena giliran..) padahal kalsel merupakan daerah penghasil batubara.. ironis bukan? lalu masalah BBM, di kalsel antrian BBM merupakan masalah yang nyata.. perjalanan kami dari penginapan ke pusat kota “dihiasi” kemacetan yang disebabkan oleh antrian BBM di setiap SPBU. Bahkan orang – orang yang mengantar kami ke daerah pelaksanaan kersos saja harus mengantri selama lebih dari 12 jam sebelum menjemput kami ke kota. Hal tersebut menyebabkan begitu berharganya bensin eceran.. yang dijual dengan harga Rp. 10.000 – 11.000. Tapi (tapi ketiga..) masyarakatnya tidak se”heboh” warga Jakarta yang bisa – bisa langsung protes, demo atau melakukan aksi – aksi yang kurang bijak. Kenapa? Lanjut ke sambutan pak camat
Sekarang masuk ke sambutan pak camat Salambabaris, salah satu kecamatan tempat kami mengadakan kersos. Apa yang pak camat sampaikan kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan pak sekda. Kecamatan ini juga sering mengalami pemadaman listrik bergilir, apalagi di desa pantai cabe (tempat kami mengadakan kersos dan tinggal selama 3 hari). Di desa tersebut, jika perlu air bersih harus membeli, tidak ada air pam seperti di Jakarta. Padahal desa transmigran itu tidak jauh dari penambangan batu bara, berjarak sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil, harusnya kaya bukan?.. Menurut pak sekda dan pak camat, batu bara yang ada dibawa ke pulau Jawa atau diekspor.. sehingga daerah asal tidak kebagian “enaknya”. Kalau begini, wajar saja jika terjadi gerakan – gerakan separatisme karena ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat… Pak camat dan dinkes kecamatan juga menyampaikan kebingungan mereka terhadap aksi – aksi anarkis terkait BBM di pulau jawa atau di kota – kota besar. Di kalsel yang harga solar bisa mencapai 20 ribu saja masyarakatnya adem ayem.. (menurut mereka dan menurut wawancara kecil yang panitia sempat lakukan). Pejabat – pejabat tersebut menganjurkan kepada mahasiswa (aduh mahasiswa lagi.. PRnya banyak ya.) untuk mendesak pemerintah meningkatkan pendidikan dan kesehatan.. kalau masalah BBM, mereka tidak terlalu bermasalah.. Bingung kan kenapa? lanjut ke obrolan singkat dengan warga desa..
Selama pelaksanaan kersos, kami tinggal di rumah – rumah warga yang rata – rata terbuat dari kayu atau sebagian kayu sebagian beton. Merupakan kesempatan baik untuk “mengorek” cerita versi warga, toh mereka yang sebenar – benarnya merasakan dampak kebijakan – kebijakan pemerintah. Setelah mendapatkan momen yang tepat, saya mencoba mengobrol dengan nyonya rumah yang pada waktu itu sedang mempersiapkan keperluan anaknya yang akan masuk TK. Berikut percakapannya..
–ramah tamah di skip–
Fio (f): Bu, sejak kenaikan harga BBM bagaimana keadaan warga di sini?
Nyonya rumah (N): baik baik aja
f: (bagaimana bisa?? *dalam hati*) oh begitu bu? kenapa?
N: soalnya pendapatan kita juga naik
f: pendapatan apa bu?
N: rata – rata kan di sini petani karet, harga karet juga ikut naik
..tiba – tiba tuan rumah datang dan ikut nimbrung pembicaraan..
Tuan Rumah (T): iya, disini jadinya seimbang
f: harga – harga ga ada yang naik pak?
T: oh, harga pupuk jadi naik sih
f: terus pengaruh ga pak?
T: pengaruh.. tapi gpp, selama pupuknya ada, ga jadi masalah
f: kalau sembako ga naik pak?
T&N: enggak..
N: selama barangnya ada, harganya naik juga gapapa
f: kalau sekolah bayar ga bu?
N: disini sekolah udah ga bayar, paling uang seragam, jadi ga ada alasan ga sekolah
f: kalau berobat?
T: kalau berobat di puskesmas paling bayar 2000.. kalau di rumah sakit katanya ga bayar, tapi saya belum pernah ke RS tuh.. jadi kurang tau pelayanannya baik atau enggak.. ya kalau bisa sarana – sarananya diperbaiki, gedung – gedung sekolah dan kualitasnya juga ditingkatkan..
f: wah, jadi bapak dan ibu suka bingung ya kalau nonton tv, di jawa sering demo
T: iya.. menurut saya bebannya pulau jawa itu sudah terlalu besar.. masyarakatnya ga punya pendapatan.. jadi rentan kalau kena kenaikan harga..
(Fyi, keluarga tempat saya tinggal adalah keluarga transmigran dari pulau jawa..)
–akhir pembicaraan–
Sekarang mengerti kan mengapa saya sebut uneg – uneg terstruktur? karena semua orang menyampaikan konten yang sama, masalah yang sama dan tuntutan yang serupa… yang saya rasa tidak atau jarang ditemukan di Jakarta.. apalagi masyarakat di sana menitipkan uneg – uneg tersebut kepada kami, mahasiswa, yang ternyata masih menjadi harapan mereka, yang mereka nilai mempunyai kapabilitas untuk menyelesaikan masalah – masalah di masa depan, mahasiswa yang dianggap akan memperjuangkan nasib mereka.. orang – orang yang jauh dari pusat pemerintahan.. yang nampaknya kurang tersentuh… yang “lidahnya” tidak sampai ke para pejabat di Jakarta (nah lho, DPDnya pada ngapain? :p)
Masalahnya, terkadang kita sering terfokus pada satu masalah dan dalam lingkup maupun sudut pandang yang sempit,, bisa jadi selama yang kita lihat hanya kepentingan dan masalah di pulau Jawa saja, padahal daerah lain juga punya masalah.. mengutip kata pak dinkes kecamatan “Kalimantan Selatan juga bagian dari NKRI!” dan begitu pula 31 propinsi lainnya..
Saatnya bergerak dan menjadi jawaban permasalahan bangsa, bukan menjadi masalah baru.. bisa? tentu saja bisa!
Hidup Rakyat Indonesia!
di hatimu