Persis sehari yang lalu, 12 Mei 2008, ribuan mahasiswa yang kampusnya tergabung dalam aliansi strategis BEM Seluruh Indonesia atau BEM SI melakukan aksi nasional dalam rangka menyampaikan tujuh gugatan rakyat yang dikenal sebagai TUGU RAKYAT. Tugu rakyat ini merupakan hasil kesepakatan Konferensi Aktivis Gerakan Se Indonesia pada akhir Maret lalu… dimana gugatannya mencakup hampir seluruh aspek kehidupan berbangsa yang dinilai mempunyai masalah kronis yang tidak kunjung menunjukkan tanda - tanda penyembuhan. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh UI atas amanah BEM SI…
Sampai disini ada yang salah? saya rasa tidak.. tidak ada yang salah dengan pertemuan para mahasiswa yang peduli dengan nasib bangsanya, toh, mereka tidak mengganggu siapapun, kecuali diri sendiri karena harus mengorbankan waktu kuliah, uang, tenaga, pikiran, dan kehidupan pribadinya. Bahkan untuk mahasiswa UI sendiri, seminggu sebelum, KAGSI, BEM UI mengadakan konferensi aktivis gerakan se UI (KAGUI), yang mengumpulkan pemikiran - pemikiran mahasiswa UI dari berbagai fakultas untuk menjawab masalah - masalah yang ada, dan sungguh, konferensi itu tidak menghasilkan bahwa mahasiswa UI harus turun aksi! tapi untuk melakukan berbagai gerakan yang diperlukan sebagai solusi setiap masalah tersebut. Jika aksi yang dikenal oleh masyarakat selama ini (aksi yang katanya berisik, cuma teriak - teriak, membuat jalanan macet dll) merupakan salah satu bentuk gerakan yang diperlukan, baru hal tersebut dijalankan. Kesepakatan KAGUI, tidak hanya aksi yang menjadi satu - satunya jalan, terdapat berbagai opsi lain seperti pembentukan POSBAHUM atau pos bantuan hukum oleh mahasiswa FHUI, lalu community development seperti yang sudah dilakukan oleh BEM UI 2 tahun belakangan ini atau kerja sosial dengan agenda pengaplikasian energi alternatif yang sebentar lagi akan dilaksanakan oleh FT UI, dan yang sekarang sedang “in” yaitu gerakan lingkungan dengan cita - cita menjadikan UI sebagai pilot project universitas dengan pembangunan berwawasan lingkungan. Ada yang salah dengan kesepakatan tersebut? saya rasa tidak.. karena gerakan mahasiswa memang lebih dari sekedar aksi berkoar - koar dijalan, mengancam akan menurunkan pemerintahan yang sedang berjalan, lalu pulang dan meninggalkan sampah - sampah di tempat kejadian.
Ketika para perwakilan kampus anggota BEM SI seperti UNJ, PNJ, UGM, UNY, Unpad, IPB dan universitas lainnya berbicara mengenai saat KAGSI sekarang adalah saatnya melakukan reposisi gerakan, saya sangat setuju. Gerakan sekarang harus ilmiah, berdasarkan basis keilmuan yang merupakan akar intelektualitas mahasiswa sebagai perlambang orang yang berilmu. jikalau menuntut sesuatu, semua mempunyai dasar dan sudah dikaji terlebih dahulu.. tidak hanya asal turunkan atau naikkan harga. Tujuh isi TUGU RAKYAT pun sudah dikaji oleh tim - tim kajian di UI (saya tidak tahu kenyataan di kampus lain..), bagaimana realitanya, apa yang menyebabkan, dampaknya, dan tentunya solusi yang terbaik dan bisa diimplementasikan sesegera mungkin. tim kajian tersebut tidak memandang fakultas, siapapun yang peduli pendidikan boleh ikut menyumbangkan solusi untuk masalah pendidikan, siapapun yang menginginkan hukum yang lebih tegas, boleh ikut urun pendapat, sehingga hasil dari kajian - kajian tersebut komprehensif dan terdiri dari berbagai sudut pandang.
Yang ingin saya bagi, kenapa mahasiswa yang notabene masih belum bergelar sarjana berani memberikan solusi kepada bapak - bapak dan ibu - ibu di pemerintahan yang sudah bergelar S1, S2, S3 dan seterusnya, karena kita, mahasiswa punya ide - ide yang kreatif dan applicable.. karena sebagian besar ide atau solusi yang dihasilkan di KAGUI sudah pernah atau sedang dilaksanakan di fakultas.. yang diperlukan adalah pengaplikasian yang bersifat massive.. oleh karena itu, pertemuan - pertemuan seperti KAGSI atau KAGUI “berpotensi” membawa perubahan, karena kegiatan yang tadinya hanya dilakukan di satu fakultas atau satu kampus saja, bisa diteladani oleh oleh kampus lain.. atau bahkan pemerintah dan tentunya membawa manfaat yang lebih luas.
Lalu.. apa jadinya ketika AKSI yang dimaksudkan sebagai cara untuk mendeklarasikan TUGU RAKYAT dengan berbagai SOLUSI di dalamnya.. yang seharusnya menjadi salah satu cara untuk mencerdaskan masyarakat tentang realita dan akar masalah dari kebobrokan negeri ini karena AKSI LEBIH DISOROT MEDIA, terutama media elektronik dibandingkan baksos atau semacamnya.. hanya menjadi AKSI yang berisi TUNTUTAN BELAKA?
menurut saya, hal tersebut yang terjadi di Aksi 12 Mei kemarin.. hal - hal yang diorasikan sungguh tidak cerdas! padahal orang - orang yang memegang mic di atas mobil sound tersebut adalah mahasiswa - mahasiswa yang berasal dari kampus - kampus idaman anak SMA! yang seharusnya berbasis ilmu! bukan emosi.. bukan dengan meneriakkan makian ke SBY JK.. ayolah rekan - rekanku! kita ini moral force! lalu mengapa kita memaki? kita datang untuk meminta pertanggungjawaban dan penjelasan dari bapak - bapak kita.. dan jika memang mereka sudah kehabisan akal, kita berikan solusi dan kita minta agar dijalankan sehingga rakyat tidak perlu menderita lagi… apa saya salah? apa saya yang telalu IDEALIS?
Saya yakin, rekan - rekan saya di BEM SI adalah rekan - rekan yang cerdas! dan bahkan sudah merumuskan reposisi gerakan mahasiswa.. lalu apa yang saya lihat? reposisi kemana? posisi kita masih ditempat yang sama… tidak ada perubahan.. dan hal ini yang membuat kita ditertawakan, dicemooh bahkan TIDAK DIPERCAYA LAGI.. oleh masyarakat, sesama mahasiswa.. dan bisa jadi oleh pemerintah.. Ini bukan reposisi gerakan.. dan saya sungguh sangat kecewa… apa yang sudah saya dan rekan - rekan saya lakukan di UI atau mungkin beberapa rekan di kampus lain menjadi mentah. Apa gunanya konferensi tersebut? apa gunanya kajian yang ada? apa gunanya grand design gerakan yang terdiri dari gerakan advokasi ke pemerintah dan gerakan pemberdayaan masyarakat? Ketika semua yang diteriakkan adalah LAWAN SBY JK? siapapun juga bisa menyewa mobil sound, mengumpulkan massa, izin ke polisi lalu dengan gagahnya menyerukan untuk menggulingkan pemerintahan.. ATAU.. apakah itu esensi dan substansi dari gerakan mahasiswa?
Saya masih yakin.. bahwa gerakan mahasiswa lebih dari itu.. tapi sungguh, saya kecewa dengan apa yang terjadi pada tanggal 12 Mei 2008… dengan massa sebanyak itu, dengan menyatunya berbagai kampus yang ada.. kita bisa melakukan sesuatu..
kita bisa melakukan pencerdasan, bukan pembodohan..
HIDUP RAKYAT INDONESIA!
Fiona Verisqa, FKG UI, 2005 (Pusat Kajian dan Studi Gerakan BEM UI 2008, Koordinator Medis Aksi TUGU RAKYAT 12 Mei 2008 )